Ingatlah, Al-Imam As-Syafi'i berkata dalam kitabnya, Al-Umm :
" Ilmu bagaikan hewan buruan, mencatat ilmu sama dengan mengikatnya "

Abu Hanifah Muh.Faisal Al-Bantani Al-Atsary
Tampilkan postingan dengan label renungan sekilas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan sekilas. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Maret 2014

Baru Tau :-)

بسم الله الر حمن الر حيم

Ternyata lemah atau kuat itu bukan masalah gender. 
Lemah bukan hanya milik wanita. Dan kuat buka hanya milik pria.
Menjadi lemah atau kuat itu ternyata sebuah pilihan.
Ada yg memilih maju dr lemah mjd kuat utk masa depan. Ada jg yg tetap memilih diam ditempat dgn keadaan yg sama dan rasa yg sama.
Yg jelas jika mengaku muslim yang baik, yg bercita2 mengukir masa depan yg indah (akhirat) dia lah org yg kuat.
Karena hidup ini perjuangan. Dan yg berjuang itu hanya dilakukan oleh orang2 yg kuat.






Rabu, 13 Februari 2013

Bukan kau atau aku, tapi kita :-)


بسم الله الر حمن الر حيم

Bagiku keluarga adalah sebuah urutan  jenjang kehidupan dimana permulaannya dimulai dengan rumah tangga. Meskipun keduanya adalah satu kesatuan.  Rumah dan tangga. Keduanya dapat berdiri jika memiliki pondasi yang kuat dan kokoh. Dan dalam sebuah keluarga pondasi tersebut dapat dibangun dengan sebuah awal berupa kepercayaan.

Bagiku rumah tangga bukanlah dibentuk karena mencari sebuah kekuasaan bagi kaum lelaki. Meskipun seorang suami/ayah adalah seorang pemimpin dalam keluarga.

Bagiku keluarga bukanlah sekedar bentuk. Ia mempunyai suatu struktur organisasi kecil yang dibangun dengan  bentuk berupa team.

Team yang kokoh adalah team yang mampu memberi dan menerima. Bukan hanya dalam hal memberi dan menerima kelebihan ataupun kekurangan masing-masing. Akan tetapi memberi dan menerima nasihat, teguran, masukan atau sekedar kesediaan untuk mendengar dan memahami.

Tanpa memberi dan menerima , rumah tangga tidak akan seimbang. Dimana salah satu pihak berkuasa sendiri. Tanpa ada yang melengkapi.  Tak ada yang mengoreksi.

Suami maupun istri mempunyai kewenangan yang sama dan seimbang.  Kewenangan memberi koreksi atau menerima koreksi, kewenangan mendengarkan dan didengarkan, dll. Kewenangan apapun yang mereka kehendaki akan indah dan terwujud manakala ada teori memberi dan menerima itu.

Seorang suami/ayah dituntut menjadi pemimpin yang bijak dalam berbagai hal, sekaligus dalam perkara memberi dan menerima. Memberi teguran, nasihat, koreksi, masukan, semangat,dll. Begitupun dengan menerimanya. Ia mesti bijak dan menghindari sikap otoriter yang tidak masuk akal.

Seorang istri pun dituntut menjadi kepala rumah tangga yang bijak. Bijak dalam ke-rumah tanggaan. Posisinya sama dengan seorang suami yang dihadapkan dengan perkara memberi dan menerima.

Seorang suami memang seorang kepala keluarga, tapi seorang istri pun seorang kepala rumah tangga. Keduanya adalah pemimpin. Tapi jelas suami mempunyai posisi lebih tinggi dibanding istri. Jika salah seorang saja tidak berlaku seimbang, maka kehidupan harmonis pun akan menjauhi mereka. Begitu pula jika salah seorang tidak ada, rumah tangga pun tidak akan ada.

Jika saling memberi dan menerima itu tidak ada, rumah tangga itu akan goyah. Dan jika lama dibiarkan akan rusak dan roboh.
Begitu pun dengan anak-anak. Mereka punya kewenangannya sendiri. Pemenuhan hak seorang anak itu merupakan kewenangannya . Jelas dalam batas kewajaran dan dalam porsi yang sesuai kebutuhannya. Dan hal ini pun tidak menutup ruang dalam memberi dan menerima.

Semuanya tergantung bagaimana kita bersikap dengan bijak dalam memberi dan menerima semua kondisi yang ada dalam rumah tangga itu.

Disinilah peran saling ikhlas menerima dan memberi. Karena tanpa keduanya tidak akan tercipta keseimbangan.
Tentu untuk menyikapinya butuh komunikasi dan pengertian yang baik diantara keduanya. Karena mereka hanyalah manusia yang butuh saling melengkapi, saling mengisi. Tidak ada yang lebih unggul diantara keduanya.   Kesempurnaan itu adalah mereka berdua. Kelengkapan itu adalah kita .

Dan terakhir....
Bagiku memberi dan menerima itu sungguh indah 


Jumat, 01 Februari 2013

Curahan di awal Februari


Beberapa hari kebelakang, ntah apa yang membuat saya berfikir bahwa apa yang saya harapkan tidak akan tercapai. Merasa ada sesuatu yang akan memutus harapan itu. Ada sebuah rasa yang kurang dimengerti maknanya, ingin membayangkan namun kekhawatiran selalu melanda.  Bukannya tidak mempercayai akan rencana-Nya. Namun kekhawatiran itu lah yang membuat diri ini sedang dipenuhi rasa-rasa maupun fikiran yang (negatif) membuat diri ini merasa lemah dan tidak bersemangat.

Allahu Rabbii, saya tidak mau membayangkannya terlalu jauh, bahkan sekedar mencobanya pun terasa enggan.

Saya butuh untuk berjuang,, yaaaa berjuang untuk mengisi setiap sel-sel yang ada dalam fikiran ini dengan aura positif . Sekalipun itu sangat berat, dengan perasaan yang tidak yakin bahwa saya bisa melawannya. Yaaaa... aura negatif itu yang tengah menguasai diri saya. Sangat kuat.

 Apa mungkin karena saya sedang sedikit “dibatasi” dalam berinteraksi dengan-Nya. Meskipun hal yang tiap bulan menghampiri itu tidak menjadi penghalang untuk berinteraksi dengan-Nya, namun sedikitnya ada hal yang dirasa begitu kurang “esensi”nya ketika berinteraksi langsung dengan-Nya dalam aktifitas yang 5 waktu itu. Sangat berbeda.

Ya Allah, mungkin  inilah efek yang sedang dilanda kefuturan dalam keimanannya. Terasa begitu kurang nyaman dari biasanya. Kurang terasa damai.
Mungkin amal yaumi saya yang akhir-akhir ini begitu sangat kurang saya dijalani.

Yaaaa... mungkin itu lah jawabannya. Saya hanya perlu men-charge ruhaniah saya. Dengan amal yaumi  yang bisa saya lakukan sebisanya dengan sedikit keterbatasan untuk sementara waktu. 
Semoga curahan ini bisa melegakan keresahan dalam hati saya yang tengah saya alami saat ini.
:-D

Jumat, 04 Januari 2013

Tahun baru, Rencana baru.. hmmm seperti nya memang mesti begitu :)

Waaaahhhh... gak terasa udah 2013 aja... tahun kemarin ngapain aja yaaa... haaaa....lupa, saking banyak yang dilakukan dan dilalui.. Yang penting dari tahun yang lalu wajib dan kudu untuk berbenah dan mengingat sesuatu yang bisa dievaluasi agar lebih baik kedepannya.

Hmmm... yang saya lakukan menjelang tahun baru adalah membayangkan apa yang ingin diwujudkan di tahun depan. Dari sini lah muncul niat baik untuk menggapainya sedikit demi sedikit. Hingga pada akhirnya muncul keberanian untuk melewati suatu bentuk perencanaan dengan tekad baik . Satu langkah telah terlewati dengan lancar atas izin dari Sang yang berwenang untuk meraih apa yang telah direncanakan. Dan siap memulai dalam mempersiapkan apa saja bekal untuk menjalaninya. Menyusul langkah-langkah yang lain yang akan digapai. Intinya adalah proses. 

Namun kenyataanya tekad yang baik itu akan tertunaikan manakala ada sesuatu yang mendesaknya. Ya desakan yang harus untuk disegerakan. Hmmmm... tak ada salah nya dan memang bukan suatu desakan yang mendadak. Tentunya hal tersebut akan datang manakala kita memang sudah dianggap siap untuk menghadapinya. Hadapi dan jalani. Semua ada saat nya. Seperti anak kecil yang akan mulai berjalan. Ia akan melewati tahap-tahap dimana jatuh bangun itu terus terulang. Sampai ia kuat untuk berdiri dengan waktu yang lama dan mulai kuat untuk melangkahkan kaki nya dengan perlahan. Dari situ lah ia bisa disebut siap untuk berjalan. Begitupun proses selanjutnya. Diawali dengan suatu tekad untuk menggapai suatu harapan dan disertai dengan niat yang sungguh-sungguh. Kemudian mencoba dan mencoba.
" Man Jadda wajada " -> siapa yang bersungguh-sungguh maka ia pun akan mendapatkan.   


Tentunya segala tekad,niat,usaha dan doa yang terbaik, Insya Allah akan mendapatkan hal yang terbaik pula.

Jangan sekali-kali mengatakan diri bahwa saya seorang pejuang jika disenggol sedikit saja sudah terjatuh dan enggan untuk bangkit.


 Jangan mudah untuk menyerah, karena perjuangan itu sangatlah indah. Kesabaran juga menjadi kunci atas tercapainya suatu keinginan. Maka berjuanglah, karena perjuangan itu amatlah indah.. 


Indah nya kapan ???


Ya sabar sajaaaa.... :-D     


    

Entri Populer

Total Tayangan Halaman